Lebak, Banten – Festival Seni Multatuli adalah program Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui platform Kebudayaan, Indonesiana. Dilaksanakan pada 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten.

Dalam rangkaian acaranya, salah satu kegiatan seni yang ditampilkan di Festival Seni Multatuli adalah Festival Teater. Dilaksanakan selama 2 malam berturut-turut, 7-8 September 2018. Terdapat 10 Penampilan Teater yang akan memeriahkan malam Festival Teater di Lapangan Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak. 5 Penampilan Teater berhasil menghipnotis para pengunjung dengan membawakan kisah-kisah yang bersinggungan dengan Multatuli. Jum’at (7/9/2018).

Teater adalah bentuk aspirasi yang dituangkan melalui penggambaran lakon-lakon cerita yang dimainkan. Beberapa Teater yang akan tampil di malam pertama diantaranya Teater Solid Art, Teater Gandrung, Teater Wong Kite, Teater Genta Bahana Banten dan Teater Syahid.

Teater SolidArt yang dimainkan oleh 13 Orang. Beranggotakan pelajar SMAN 8 Kota Serang menampilkan judul ‘Senandika Saijah Adinda’ yang menceritakan tokoh Saijah dan Adinda yang ada dalam novel Max Havelaar. Di sutradarai oleh Alwin Prayoga.

Penampilan Kedua, Teater Gandrung yang berasal dari Lebak dan didirikan oleh Dede Yusuf. Mengangkat tema ‘MAX just NOVELAAR’ merupakan petikan dari sebuah Artikel karya David Albert Peransi. Dimainkan lebih dari 20 orang dengan kostum serba hitam.
Penampil ketiga, Teater Wonk Kite yang berasal dari Provinsi Banten, Cilegon. Kebanyakan adalah pemuda Kota Cilegon beranggotakan lebih dari 200 anggota. Lewat naskah ‘Kidung Galeng’ karya Kacuk Hebring dengan sutradara Ahmad Fadli.

Penampil keempat, Teater Genta Bahana Banten yang berasal dari mahasiswa Seni, Drama, Tari dan Musik (Sendratasik) FKIP Universitas Negeri Tirtayasa (Untirta) Ciwaru, Serang, Banten. Menggarap salah satu karya tulis W.S Rendra berjudul ‘Tokek dan Adipati Rangkasbitung’ dengan sutradara Giri M.K. Diperankan oleh 13 orang dengan tata letak artistik yang memukau.

Sebagai penutup, Teater Syahid yang merupakan Organisasi teater di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memainkan Naskah berjudul ‘Nya’ di sutradarai Ari Sumitro. Menceritakan tentang manusia yang saling dikotomi antar ras, penguasa, rakyat jelata, dan agama.

Peri Sandi Huizche selaku penanggungjawab Festival Teater mengatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk sindiran supaya teater di Banten bisa dipehatikan, minimalnya dengan disediakannya gedung pertunjukan.

Hendriyana – Genpi Lebak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here