Dalam pembukaan CEC yang berlangsung di depan Kantor Wali Kota Cilegon, Sabtu (28/04/2018) malam, Deputi bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Komang Ayu mengungkapkan bahwa pemerintah pusat telah menetapkan target kunjungan 15 juta wisatawan mancanegara yang mampu mendatangkan devisa negara Rp500 triliun.
Selama 2018, Kemenpar juga menargetkan 265 juta pergerakan wisatawan domestik dengan estimasi pengeluaran biaya mencapai Rp236 triliun.
“Untuk mencapai dua target itu perlu koordinasi dan sinkronisasi program antara (pemerintah) pusat dan daerah. Kemenpar hanya mengatur kebijakan karena itu dukungan pemerintah daerah sangat penting dalam mencapai target jumlah wisatawan,” ujar Komang.
Penyelenggaraan Cilegon Ethnic Carnival diharapkan menjadi alternatif wisata yang dapat menjadi pilihan wisatawan sekaligus untuk mendukung keberadaan Tanjung Lesung di Pandeglang yang termasuk dalam 10 destinasi unggulan pengembangan pariwisata Tanah Air. “Kita berharap bukan hanya wisatawan dalam negeri tetapi wisatawan mancanegara juga datang berbondong-bondong ke Cilegon,” tuturnya.
Cilegon Ethnic Festival 2018 menampilkan pameran busana modern kontemporer dan kesenian dari berbagai budaya Nusantara.
Belasan komunitas paguyuban etnis di antaranya Cilegon, Tionghoa, Tapanuli, Lampung, Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, Papua, Serang, Minang hingga Lampung berpartisipasi dalam acara tahunan yang diselenggarakan untuk memperingati HUT Kota Cilegon.
Selain Cilegon Ethnic Carnival, HUT ke-18 Kota Cilegon juga dimeriahkan dengan kegiatan Sail Krakatau atau paket kunjungan wisata untuk menikmati keindahan Anak Gunung Krakatau langsung dari atas kapal.
]]>Cuaca dingin di malam hari tidak menyurutkan ribuan warga yang ingin melihat keunikan dari kostum yang dipakai oleh peserta karnaval. Dalam karnaval itu, kostum dari berbagai wilayah di nusantara disajikan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon, Heri Mardiana mengungkapkan, Cilegon Ethnic Carnival digelar untuk mengangkat kekayaan kebudayaan yang ada di Indonesia. “Saya berharap melalui Cilegon Ethnic Carnival, masyarakat dari berbagai suku yang tinggal di Kota Cilegon selalu berdampingan. Meskipun berbeda suku dan agama,” katanya.
Dia juga mengucapkan terimakasih kepada semua peserta yang telah menampilkan keanekaragaman adat dalam gelaran Cilegon Ethnic Carnival 2017.
Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati berharap, tahun depan CEC bisa masuk dalam Kalender of Event Kementerian Pariwisata. Sebab, secara packaging, CEC dianggap sudah sangat layak. “Termasuk animo masyarakat yang menyambutnya. Diperkirakan CEC ini dihadiri sampai 100 ribuan pengunjung baik dari masyarakat Kota Cilegon maupun yang datang dari luar Kota Cilegon,” ucap Eneng.
Salah seorang warga yang menyaksikan acara CEC, Shinta, mengaku takjub dengan kostum yang ditampilkan oleh peserta. Namun dirinya mengaku jika keberagaman kostum yang ada di carnival 2018 lebih sedikit jika dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk pesertanya enggak terlalu lengkap dibandingkan tahun lalu, karena waktu itu hampir pakaian adat di semua provinsi di Indonesia itu ada. Tapi untuk peserta yang menampilkan pakaian adat pada Cilegon Ethnic Carnival tahun ini kayaknya sedikit banget. Tapi penontonnya jelas jauh lebih banyak dari tahun lalu,” ungkap Shinta.
Meski demikian, demikian gelaran Cilegon Ethnic Carnival tetap saja menghipnotis ribuan warga yang menyaksikannya.
]]>Kepala Dispar Kabupaten Pandeglang, Salman Sunardi menjelaskan, olahan makanan tersebut banyak dihasilkan di wilayah Kecamatan Labuan, khususnya Desa Teluk.
“Makanya kami fokuskan kampung otak-otak ini di Teluk,” Katanya ditemui dalam acara Pandeglang Food Festival 2018 di Pantai Batako, Desa Teluk, Kecamatan Labuan Sabtu (28/4/2018).
Diamini Ketua PHRI Kabupaten Pandeglang Widiasmanto, pihaknya menjadi inisiator dalam menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi yang ada di Teluk-Labuan ini, untuk menjadi salah satu tujuan destinasi wisata kuliner baru yaitu Kampung Otak-otak.
“Untuk melihat potensi yang ada di teluk, kami berusaha menginisiasi dan memotivasi masyarakat agar bisa lebih memanfaatkan peluang untuk di jadikan nilai tambah perekonomian masyarakat, akan lebih maksimal lagi kalau teluk ini dijadikan kampung otak-otak,”kata Widiasmanto.
Terpisah, diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati, pihaknya sangat mendukung wacana Desa Teluk dijadikan kampung otak-otak.
“Terlebih karena mayoritas penduduk merupakan nelayan sehingga olahan makanan ini bisa dijadikan sebagai ikon desa ini sendiri. Dengan dijadikannya kampung ini sebagai kampung otak-otak, pastinya dapat mendongkrak nilai jual ikan menjadi olahan yang khas,” ujar Bu Eneng.
]]>Beberapa kegiatan digelar dalam materi terakhir prosesi HUT ke-144 Kabupaten Pandeglang yang mengusung tema ‘Citra Kuliner Tanpa Batas’ ini.
Di antaranya ; penanaman pohon, rampak bedug, debus, lomba membuat otak-otak tingkat SMA dan umum hingga yang paling spektakuler adalah pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pembuatan otak-otak terpanjang berbentuk angka 144 yang menghabiskan daging ikan hingga mencapai tiga kuintal atau 300 Kilogram.
Penanaman pohon, dilakukan oleh perwakilan Bupati Pandeglang, Asda Pandeglang, Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang, Dinas Pariwisata Provinsi Banten, TNI, PHRI dan lurah.
Sementara penonton dihibur oleh penampilan semarak rampak bedug dan debus, lomba membuat panganan lokal otak-otak tingkat sekolah dan umum digelar.
Di tingkat sekolah, dua peserta berasal dari SMKN 1 Pandeglang sedangkan dua peserta lainya masing-masing dari SMK dan SMA Baitul Hamdi. Pada lomba tingkat umum, sebanyak 30 peserta dari warga sekitar berkompetisi memperebutkan juara.
Semuanya tampak serius dan memperhatikan betul kriteria penilaian yaitu rasa, kreativitas dan inovasi. Hadiah lomba, berupa uang tunai dan voucher menginap.
Tampil sebagai primadona acara, pemecahan rekor MURI pembuatan otak-otak terpanjang yang berbentuk angka 144. Otak-otak yang dibuat oleh Asosiasi Chef Indonesia itu disebut menghabiskai pelengkapnya. Ada saus merah, saus hijau dan saus kacang.
Dikatakan Deputi Kementerian Pariwisata Tim Pokja IT untuk Percepatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung Ibu Ida Irawati, Pandeglang merupakan wilayah potesial pariwisata.
“Dari 100 agenda dalam kalender event pariwisata, KEK Tanjung Lesung didaulat menjadi salah satu penyelenggara. Hal ini menunjukan bahwa Pandeglang mampu menjadi destinasi menarik bagi wisatawan baik mancanegara maupun lokal. Kami dari Kementerian Pariwisata akan terus mendukung. Begitupun dengan masyarakat sekitar yang harus ikut mendukung dengan menjaga kebersihan dan ketertiban,” katanya.
]]>Konsep dua destinasi digital ini pun tampil berbeda satu sama lain. Pasar Bekelir tampil dengan konsep urban yang modern. Sementara Pasar Kaulinan tampil dengan konsep culture.
Menu makanan yang disajikan pun jelas sangat berbeda. Bila Pasar Bekelir unjuk gigi dengan kuliner kekinian ala-ala millennials seperti ice milo, dino milo, juice, beragam fast food dan sausage, Pasar Kaulinan justru menyajikan kehangatan pedesaan dengan menu makanan tradisional. Seperti kue balok, cucur, serabi, cilok dan masih banyak lagi.
Tampil di Gebyar Exciting Banten on Seba Baduy, destinasi digital ala anak-anak GenPI ini tidak sendirian. Gelaran seni budaya hingga gelar produk unggulan juga disiapkan. Ada workshop ekonomi kreatif, pagelaran batik dan tenun banten, pameran foto, atraksi grafiti, penampilan artis ibu kota dan aneka hiburan lainnya.
Ketua Pelaksana Calendar of Event Kemenpar Esthy Reko Astuti mengatakan, tradisi Seba Baduy adalah salah satu destinasi wisata budaya favorit yang dimiliki Provinsi Banten. Even ini digelar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan merupakan bukti keseriusan Pemprov Banten dalam mendukung pariwisata.
“Pemprov Banten sangat jeli melihat potensi atraksi budaya yang unik dan menarik untuk ditampilkan. Komitmen kami jelas akan terus mendukungnya,” ujar Esthy yang juga Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar itu.
Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan mengapresiasi suksesnya gelaran Seba Baduy. Terlebih lagi Pemprov Banten juga telah mempersiapkan semua jauh-jauh hari. Apalagi even ini disokong oleh GenPI yang selalu militan mempromosikan pariwisata Indonesia.
“Promosinya disokong oleh prajurit digital GenPI. Sudah pasti heboh. Bayangkan, lebih dari 2000 orang masyarakat suku tumpah ruah di Banten. Terbayang sudah keseruannya,” kata Menpar Arief Yahya.
]]>Dikatakan Ketua Genpi Lebak Yeni Mulyani S.Ikom, kesenian tradisional ini berupa pertunjukan musik tradisional yang dilakukan oleh Ibu-Ibu dan remaja putri. Mereka menyanyikan lagu berbahasa Sunda diiringi permainan musik menggunakan alat berupa alu atau lesung.
Lagu yang kali ini dinyanyikan sepuluh kelompok perempuan ini, haruslah bernada riang dan ceria. Sebab lagu tersebut melambangkan kegembiraan warga Lebak menyambut 1.672 orang Masyarakat Adat Baduy yang datang.
Kedatangan Masyarakat Adat Baduy tidak lain adalah untuk bersilaturahmi kepada Pemerintah Daerah baik Kabupaten Lebak maupun Provinsi Banten.
Setibanya di Pendopo Bupati, Masyarakat Adat Baduy yang semuanya terdiri dari laki-laki (perempuan tidak diizinkan mengikuti Seba) beristirahat setelah menempuh jarak sejauh kira-kira 45 km melalui jalur Ciboleger-Leuwi Damar-Cimarga-Rangkasbitung.
Mereka beristirahat untuk kembali mengikuti rangkaian acara penyambutan lainnya yaitu ; Babacakan atau makan bersama. Babacakan kali ini dilaksanakan di depan Aula Multatuli, Kantor Setda Kabupaten Lebak.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lebak Hayat Saida, sebagai bentuk kecintaan masyarakat Adat Baduy kepada pemerintah. Sekali dalam setahun selama ratusan tahun Masyarakat Adat Baduy menyerahkan hasil panen (Seba atau Seserahan) kepada “Bapa Gede”, yakni Bupati Lebak dan Gubernur Banten.
Tahun ini Masyarakat Adat Baduy menyerahkan hasil panennya kepada Pjs Bupati Lebak Ino S Rawita dan Gubernur Banten Wahidin Halim. Seserahan berupa padi, pisang, jagung, laksa (makanan yang terbuat dari tepung beras) dan hasil-hasil bumi lainnya.
Sementara itu, prosesi penyerahan Seba dilakukan usai ‘Babacakan’ lalu dilanjutkan dengan hiburan bagi Masyarakat Adat Baduy berupa kesenian tradisional Wayang Ajen.
Memeriahkan kegiatan Exciting Banten on Seba Baduy 2018, Genpi Lebak mendirikan stand bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan diri menjadi anggota Genpi di sisi luar Kantor Bupati Lebak. Masyarakat juga dapat mengikuti lomba foto bertemakan ‘On the Spot Exciting on Seba Baduy 2018’.
Pada Sabtu (21/4/2018) pagi, Masyarakat Adat Baduy akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Kantor Gubernur Banten di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) di Curug, Kota Serang. Sisa perjalanan yang akan mereka tempuh, sekitar 50 km.
Wow, bisa teman-teman bayangkan seperti apa rasanya berjalan kaki sejauh itu tanpa alas kaki?
]]>